Thursday, September 26, 2013

REFERENSI PLANKTON, BENTOS, INVERTEBRATA AIR

Selamat pagi! :)
Saya ingin membagi sebias referensi yang saya kumpulkan tentang Plankton. Dan jangan kuatir, referensi ini disertai resensi yang jelas. Selamat membaca.

Foto Plankton Laut (Sumber: Satino 2003)


Universitas Negeri Yogyakarta. 2003. Diktat Kuliah Ekologi Perairan. Yogyakarta: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta
Plankton adalah jasad-jasad renik yang hidup melayang dalam air, tidak bergerak atau bergerak sedikit dan pergerakannya dipengaruhi oleh arus (Sachlan, 1982). Selanjutnya Sumich (1999) mengatakan bahwa plankton dapat dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu fitoplankton (plankton nabati) dan zooplankton (plankton hewani). Menurut Thurman (1984), dalam perairan fitoplankton merupakan produsen primer (produsen utama dan pertama) sehingga keberadaan fitoplankton dalam perairan mutlak adanya.
Zooplankton adalah plankton hewani. Zooplankton meskipun terbatas, mempunyai kemampuan bergerak dengan cara berenang (migrasi vertikal). Pada siang hari zooplankton bermigrasi ke bawah menuju dasar perairan. Migrasi dapat juga terjadi karena faktor konsumenan (grazing) yaitu mendekati fitoplankton sebagai mangsa. Dapat juga migrasi terjadi karena pengaruh gerakan angin sehingga menyebabkan upwelling atau downwelling (Sumich, 1999)
Zooplankton terdiri dari holoplankton (zooplankton sejati) dan meroplankton (zooplankton sementara). Holoplankton adalah hewan yang selamanya hidup sebagai plankton seperti Protozoa dan Entomostraca. Meroplankton yaitu hewan yang hidup sebagai plankton hanya pada stadia-stadia tertentu, seperti larva atau juvenil dari Crustacea, Coelenterata, Molusca Annelida dan Echinodermata (Sachlan, 1982). Protozoa sebagai plankton sejati dibagi menjadi 4 klasis yaitu Rhizopoda, Ciliata, Flagelata dan Sporozoa (hidup sebagai parasit).
Rhizopoda merupakan zooplankton yang mempunyai arti penting tidak hanya di laut tetapi juga di air tawar. Zooplankton ini merupakan makanan bagi ikan dan hewan Avertebrata. Rhizopoda terdiri dari beberapa ordo yaitu Amoebina, Foraminifera, Radiolaria dan Heliozoa.

Bentos adalah organisme yang hidup di dasar perairan, baik sesil maupun motil. Contoh bentos antara lain adalah gastropoda, bivalvia, dan beberapa crustacea, serta kelompok cacing. Contoh bentos yang hidup merayap misalnya kepiting, lobster dan udang karang lainya, Chiton, bintang laut, bintang mengular dan lain-lain. Bentos yang hidup dengan cara membuat liang misalnya berbagai jenis cacing dan kerang-kerangan, sedangkan yang hidup menempel misalnya tiram, teritip, spong, anemone dan lain-lain. Bentos dalam ekosistem laut memiliki peran yang sangat penting. Sebagian dari bentos bersifat filter feeder dan sebagian mengambil nutrisi dengan memakan bangkai organisme yang jatuh ke dalam dasar lautan. Berdasarkan cara makan dan jenis makanannya, bentos dalam ekosistem laut dapat berperan sebagai pembersih perairan dan dasar laut.
Neuston adalah organisme perairan yang mampu bergerak bebas di dalam perairan. Contoh: ikan. Algae makroskopis terdiri dari beberapa species antara lain adalah Hydrilla. Perifiton adalah organisme (khususnya algae mikroskopis) yang hidup menempel pada akar atau tumbuhan air lain atau benda-benda yang terendam air, sedangkan tumbuhan emergen adalah tumbuhan air yang akarnya menancap di dasar perairan, sedangkan sebagian batang atau daun mencuat ke permukaan perairan. Contoh: Teratai. Biota laut yang termasuk dalam kelompok Nekton ini antara lain: ikan, cumi-cumi, penyu, ular, vertebrata laut, sotong dan lain-lain.
Sachlan (1982), Meadows and Campbell (1993), dan Sumich (1999) bahwa fitoplankton merupakan organisme berklorofil yang pertama ada di dunia dan merupakan sumber makanan bagi zooplankton sebagai konsumen primer, maupun organisme aquatic lainnya, sehingga populasi zooplankton maupun populasi konsumer dengan tingkat tropic yang lebih tinggi secara umum mengikuti dinamika populasi fitoplankton.

Komunitas adalah kumpulan dari populasi-populasi yang terdiri dari species berbeda yang menempati daerah tertentu. Komunitas penyusun ekosistem perairan terdiri dari plankton (fitoplankton dan zooplankton), bentos, neuston, algae makroskopis, tumbuhan emerjen dan perifiton.

Rahayu S, Widodo RH, van Noordwijk M, Suryadi I dan Verbist B. 2009. Monitoring Air di Daerah Aliran Sungai. Bogor, Indonesia. World Agroforestry Centre - Southeast Asia Regional Office. 104 p.
Biomonitoring adalah monitoring kualitas air secara biologi yang dilakukan dengan melihat keberadaan kelompok organisme petunjuk (indikator) yang hidup di dalam air.
Kelompok organisme petunjuk yang umum digunakandalam pendugaan kualitas air adalah:
-Plankton: mikroorganisme yang hidup melayang-layang di dalam air;-Periphyton: alga, cyanobacter, mikroba dan detritus yang hidup di dalam air;-Mikrobentos: mikroorganisme yang hidup di dalam atau di permukaan air; -Makrobentos: makroinvertebrata yang hidup di dalam atau di permukaan air;-Makrophyton: tumbuhan air;-Nekton: ikan
Kelompok tersebut digunakan dalam pendugaan kualitas air karena dapat mencerminkan pengaruh perubahan kondisi fisik dan kimia yang terjadi di perairan dalam selang waktu tertentu. Namun, metode ini memiliki beberapa kelemahan antara lain:
Tidak dapat mengidentifikasi penyebab perubahan yang terjadi, hasil pendugaan menunjukkan kualitas air secara ekologi tetapi tidak dapat menunjukkan adanya bahan patogen atau organism berbahaya lainnya, Hanya dapat dilakukan oleh orang yang mengerti tentang biologi perairan ataupun orang yang telah dilatih karena harus mengidentifikasi secara taksonomi kelompok-kelompok organism petunjuk. Oleh karena itu, untuk mendapatkan informasi kualitas air yang lebih akurat, sebaiknya dilakukan penggabungan antara pemantauan kualitas air secara fisik-kimia dan biologi.
Mengapa Menggunakan Makroinvertebrata?
Makroinvertebrata adalah hewan tidak bertulang belakang yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Makroinvertebrata air merupakan komponen biotik pada ekosistem perairan yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi fisik, kima dan biologi suatu perairan, sehingga digunakan sebagai indikator kualitas air sungai.
Selain itu, makroinvertebrata air memiliki sifatsifat sebagai berikut:- Sangat peka terhadap perubahan kualitas air tempat hidupnya, sehingga akan mempengaruhi komposisi dan kelimpahannya; -Ditemukan hampir di semua perairan;-Jenisnya cukup banyak dan memberikan respon yang berbeda akibat gangguan yang berbeda:-Pergerakannya terbatas, sehingga dapat sebagai penunjuk keadaan lingkungan setempat;-Tubuhnya dapat mengakumulasi racun, sehingga dapat sebagai petunjuk pencemaran;-Mudah dikumpulkan dan diidentifikasi paling tidak sampai tingkat famili;-Pengambilan contoh mudah dilakukan, karena memerlukan peralatan sederhana, murah dan tidak berpengaruh terhadap makhluk hidup lainnya.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam biomonitoring dengan makroinvertebrata yaitu:
- Keberadaannya sangat dipengaruhi musim, sehingga pengambilan contoh harus dilakukan pada tiap-tiap musim.
- Makroinvertebrata hanya memberikan respon terhadap pengaruh perubahan kondisi lingkungan tertentu.
- Kondisi fisik dan kimia sungai seperti kecepatan aliran air, substrat dasar sungai, keberadaan pusaran dan genangan air, lebar sungai, kemiringan, tutupan vegetasi pada tebing sungai, kandungan unsurhara dan konsentrasi oksigen terlarut dapat mempengaruhi keberadaan makroinvertebrata (Oleh karenanya, perlu dilakukan pengambilan contoh pada lokasi yang telah terpolusi dan belum terpolusi dengan kondisi fisik yang sama untuk digunakan sebagai data acuan)
- Pada beberapa kelompok, identifikasi sampai tingkat spesies sangat sulit dilakukan.

JURNAL-> BAWAL Vol.3 (6) Desember 2011 : 415-422
KEANEKARAGAMAN PLAINKTON DAN TINGKAT KESUBURAN PERAIRAN
DI WADUK GAJAH MUNGKUR
Agus Djoko Utomo, Mohamad Rasyid pi666, Dinar DA Putranto, EdwardSaleha

Mikro algaeplankton dapat dijadikan sebagai indicator kualitas lingkungan perairan, karena merupakan parameter biologi yang erat hubungannya denganzathara (Sachlan, 1982). Menurut Lancar & Krake (2002) kelimpahan fitoplankton dapat mengasimilasi sebagian besar zatharu dari perairan. Kelimpahan plankton di suatu perairan akan dipengaruhi oleh parameter lingkungan termasuk kualitas perairan dan fisiologi. Kelimpahan dan komposisi plankton dapat berubah pada berbagai tingkatan sebagai respon terhadap perubahan kondisi lingkungan fisik, biologi dan kimiawi perairan. Adatiga faktorutamayang mempengaruhi respon pertumbuhan plankton yaitu suhu, cahaya dan nutrien. Bila suhu, cahaya dan nutrien dalam kondisi yang optimum maka plankton akan tumbuh dengan pesat (Vithanage, 2009).
#Cara Pengambilan Sampel Plankton#
Sampel plankton diambil dengan menggunakan water sampler volume 3,3 liter dan -disaring dengan plankton net no: 25 pm kemudian dimasukkan dalam botol vial ukuran 25 ml. Sampel diambil pada kedalaman 0 m dan 3 m. Sampel yang tersaring dalam botol vial diawetkan dengan lugol sebanyak 5 tetes, selanjutnya diperiksa di laboratorium untuk diidentifikasi jenis planktonnya dan kelimpahannya. Buku acuan untuk identifikasi plankton yaitu Needham & Needham ( I 963) dan Prescott ( 979).

Selesai :)

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar, kritik dan saran anda sangat berarti. Saya tunggu ya komentarnya...