Monday, October 22, 2012

PAGI HARI DI KUMBOLO


Permpuan bisa nge-guide ke gunung loh… Siapa yang nggak tertarik di guide oleh dua gadis manis tapi serampangan dan sarap #narsis
1

Hari Selasa pagi, begitu bangun dari tempat tidur teman sekamarku mengajak ke Ranu Kumbolo. Ohya, aku ceritakan dulu hal unik, lima puluh persen (50%) penghuni kosanku adalah anggota pecinta alam, tentu aja anak-anak Mahasiswa Pecinta Alam Jonggring Salaka UM. Jadi nggak heran kalau saat kegiatan kosan kami akan sepi melompomg dan begitu selesai bakalan banyak keril dan sepatu gunung kotor berserakan di depan. (Padahala kosan cewek loh :D )

Kembali ke topik bahasan, rekan sekamarku begitu bangun menanyakan kesediaanku untuk menemani dia mengantar teman SMA nya ke Kumbolo (Mungkin waktu tidur dapat wangsit atau telepati dari temannya). Tak banyak pikir, langsung ku jawab ok.


Tapi “oke” di sini masih kupikir-pikir (dengan ilustrasi kilasan pikiran super sonik mengambang). Yang kupikirkan, aku yang paling tua, naik sepeda motor sendiri, bertanggung jawab atas keselamatan mereka, dan mereka mau perjalanan kilat hanya dua hari. Aku hitung kekuatan fisik dan kesehatan sepeda. Cukup lah, toh yang kami antar laki-laki. Se “enggak pernah” nya laki-laki naik gunung, toh mereka punya fisik yang lebih kuat dibanding perempuan (harapannya).

Jadilah hari Jumat kami packing dan berangkat.

Setelah Jumatan, kami langsung tancap gas dari kosan di Kota Malang menuju pos pendakian Ranupani. Semula aku menghawatirkan kondisi si Supri (Sepeda motor bebek Supra merah 125 cc), masalahnya ban depannya habis ditambal akibat biji paku liar yang ditabur orang sembarangan di jalan. Tapi, sebelumnya sepeda ini terbukti mumpuni melewati padang pasir Bromo. Pede aja lah…

Ternyata, terbukti Si Supri lebih mumpuni dari Jupri (red:Jupiter) milik kawan sekamarku. Aku membonceng kawan sekamarku dan Jupri dibawa oleh kawan SMA nya. Yang paling susah bukan masalah menanjaknya tapi kesabaran menahan gas sepeda motor melewati jalan makadam berpasir halus. Kalu ragu bakalan mudah terpeleset. Belum saat berpapasan dengan truk atau 4WD (four wheel drive) yang ngebut.

Rehat sejenak ngopi di pertigaan aranh Bromo-Ranupani, kemudian kami melanjutkan perjalanan bersepeda motor menuju pos pendakian. Menjelang maghrib kami sampai dan secepat kilat mengurus perijinan.
Matahari menghilang dan dingin malam bulan Oktober menusuk, menggigit-gigit kulit leher. Kami berangkat.

Perjalanan malam bertiga menawarkan suasana eksotis kesepian punggungan Semeru yang berputar-putar. Cahaya remang headlamp dan senter menerangi kasaran jalan setapak dan semak-semak. Justru di kesepian ini saya baru pertama kali, dari sekian perjalanan ke Kumbolo, menemukan banyak hal. Seekor mamalia,  mungkin sejenis kuskus melintas dengan santai dihadapan kami serta puluhan suara burung malam melantun. Tenang.

Tak terasa (sambil ngos-ngosan) kami sampai di Kumbolo menjelang setengah sebelas malam. Lambat memang, tapi menyenangkan dan santai. Kemudian apa yang akan kami lakukan?

Kami pindah tidur.

Yap, daripada melawan dingin lebih baik menikmatinya dibalik sleepingbag :D
Lagipula sang tamu yang kami antar juga terlihat mengntuk dan lelah. Saatnya tidur menanti pagi.

Ranu Kumbolo dari atas tanjakan cinta pukul 06.15 am


No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar, kritik dan saran anda sangat berarti. Saya tunggu ya komentarnya...