Friday, March 16, 2012

Inspired by A Novel: two scientist

Aku akan menceritakan sebuah kisah
 
Tentang seorang ahli aritmatika, sebuah bidang ilmu pasti dan teoritis dengan berbagai macam permainan tentang aturan-aturan bilangan. Laki-laki itu sangat menggantungkan kehidupannya pada lingkungan yang mendukungnya, kendati bukan dari keluarga kaya atau terpandang. Sebuah keajaiban, salah sebuah takdir, membuatnya menjadi seorang ahli aritmatik terbaik di Benua Eropa. Maka seluruh hidupnya terpenuhi dengan sendirinya.

Dia tidak sekaya para tuan tanah feudal memang, tapi gelar-gelar ‘profesor’ aritmatik didapatnya langsung dari raja. Raja terkesan pada penggunaan teori matematikanya dalam memperhitungkan lintasan bintang, ilmu astronomi.


Kendati ayahnya yang seorang tukang kebun sangat keras padanya, ibunya akan selalu ada. Laki-laki itu tak akan bisa hidup tanpa ibu disampingnya. Dan seperti layaknya laki-laki normal, dia pun mendambakan wanita untuk mendampinginya. Seorang yang cukup cantik untuknya, cukup mengerti dia, dan tak akan pernah menghalangi ambisinya. Menjadi seorang ahli-dari segala ahli- aritmatika.
Ribuan teori dia temukan, bahkan kumpulan ilmuwan matematika sudah tak bisa lagi mengikuti pola pikirnya. Ia menyibukkan diri dengan berbagai percobaan garis dan gelombang magnetis dalam sebuah ruangan tertutup dari dunia luar. Hingga dia tidak membutuhkan apapun kecuali yang dibutuhkannya untuk bertahan hidup.

Begitu terpusatnya sang ambisius ini, ia pun dua kali melewatkan kelahiran putrinya. Bahkan mungkin dia tak ingat keberadaan putrinya. Pernah suatu kali, sang ahli melewatkan malam pertamanya karena tiba-tiba saja sebuah pemecahan masalah bilangan terlintas dalam benaknya, kemudian dia akan kembali terpusat pada aritmatik.

Istrinya begitu kesepian, namun kesetiannya tetap mempertahankan rasa cinta pada suaminya. Dia terus mengingat masa-masa ketika sang ahli aritmatika muda melamarnya dengan bunga-bunga dandelion liar. Ketika ambisi pemuda itu terasa menggairahkan hidupnya. Dan akhirnya dia memutuskan untuk berjanji menjadi pendamping hidupnya.

Pada malam hari hujan yang sial, ahli aritmatik itu terus berkutat dalam ruangannya. Tak lagi merasakan gangguan gema petir di seluruh penjuru rumah, dia memfokuskan pada percobaan gelombang magnetis. Tiga hari dia mengurung diri, bahkan mungkin juga telah lupa untuk makan.
Ketika akhirnya dia merasa lemas dan tak kuat lagi untuk berada dalam ruang lembab itu, dia memutuskan untuk keluar. Begitu heran dirinya mendapati kerumunan orang didepan kamarnya.

“apa yang terjadi?” tanyanya dengan hampir berbisik karena lemas pada sang ibu.
“istrimu melahirkan… lagi. Ya Tuhan… bagaimana kamu bisa begitu linglung dan melupakannya lagi?”, sang ibu memandangnya, namun anehnya kali ini tidak dengan tatapan marah seperti ketika dia melewatkan kelahiran dua putrinya yang lalu.
“lalu? Apakah aku akan punya pewaris?”, tanyanya karena memang dia mengharapkan seorang anak laki-laki. “Sudah kuduga… aku pasti akan kecewa… seorang perempuan lagi kan…”
Ibunya menampar pelan. Tatapanya antara iba dan marah. “bukan anakku, seorang pewaris telah lahir. Prematur, namun sehat…”. Terlihat raut muka ahli aritmatik yang bersinar, ia sangat ingin segera menemui istrinya dan mengucapkan terima kasih.

“… tapi istrimu tidak selamat.”

Semua terlambat. Sebelum ucapan terima kasihnya diberikan untuk sang istri, dia telah terkulai lemas, terbaring diatas kasur. Rambutnya lengket menutupi dahi, memandang kearahnya dengan tatapan kosong.

Bagaimana menurutmu kisah ini?
fiksi atau nyata, yang jelas bukan hanya aku yang mendengar kisah ini. laki-laki dengan ambisinya, dan perempuan bukanlah ambisinya.
Harta-Tahta-Wanita
Semua hanya kumpulan ambisi
Mungkin aku akan jadi salah satu dari wanita itu, entah sang ibu atau sadisnya sang istri.

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar, kritik dan saran anda sangat berarti. Saya tunggu ya komentarnya...