Wednesday, December 7, 2011

Tengger

Oktober 2011.
Pagi itu matahari terasa tinggi, namun kabut tak juga turun dari rimbun alang-alang bekas ladang. Kendaraan yang membawa kami dengan susah payah naik. Roda-rodanya berpacu melawan tebal debu sisa letusan Bromo tiga bulan lalu. Anak-anak kecil berpipi merah mengikuti kendaraan kami dari belakang seraya kendaraan tersebut berbelok menikung tajam, dan naik. Kami berhenti di salah satu desa dengan masyarakat asli yang menetap di ketinggian diatas 2000 mdpl (Meter di atas permukaan laut), Desa Ngadas, Tempat orang-orang suku Tengger.

Masyarakat Tengger




Masyarakat Tengger adalah masyarakat yang tinggal di kawasan sekitar Gunung Bromo yang masih berada dalam kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Kendati berdekatan dengan Suku Jawa, namun Suku Tengger masih dapat dibedakan melalui penggunaan logat Bahasa Jawa Kuno yang mengganti huruf vokal "o" menjadi "a".

Kami turun dari truk, yang notabene kendaraan kami, disambut gelak tawa anak-anak kecil yang keheranan pada rombongan kami. Anak-anak kecil dengan kawengan yang selalu mengalung di leher atau sekedar membalut tubuh tak pernah sekalipun lepas, bahkan ketika mereka berlarian. Kawengan adalah sebutan untuk sarung yang digunakan oleh orang-orang Tengger untuk melindungi diri dari dingin. Kawengan saja sudah cukup hangat untuk mereka, meskipun bagi kita urang efektif tapi bagi penduduk setempat sangat efisien. Selain ringan dan mudah dibawa kemana-mana, kawengan juga tidak sulit untuk mendapatkannya.

MENURUT LEGENDA

Cuplikan Upacara Kasada
Masyarakat Tengger yang menjadi guide wisata berkuda

Menurut cerita yang dibawakan dalam upacara tarian hari Kasada yang dituturkan oleh para dukun (sesepuh adat), orang-orang Tengger bermula dari sepasang suami istri bernama Roro Anteng dan Joko Seger. Roro Anteng adalah putri yang melarikan diri dari kerajaan Majapahit akibat pertikaian politik sedangkan Joko Seger adalah anak dari pertapa yang menemui pamannya yang tinggal di sekitar Desa Ngadas. (lihat juga artikel terkait)

Dari keduanya lah beranak-binak menghasilkan keturunan masyarakat Tengger. Ada pula yang mengatakan bahwa kata Tengger berasal dari "Teng" pada akhir nama Roro Anteng dan "Ger" dari nama Joko Seger. Ada pula yang mengartikan secara harafiah bahwa Tengger berarti berdiri tegak, atau tempat yang tinggi, yang mengartikan bahwa mereka adalah suku yang mendiami daerah yang tinggi.

 Lihat artikel
Mengapa Edelweis istimewa
Perjalanan Anak Burung Maleo
Arti dan Makna Tato Suku Dayak
Tebing Unik Indonesia
Outbound
Burung Anggang (Rangkong) Endemik
Memperbaiki Raincoat 

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar, kritik dan saran anda sangat berarti. Saya tunggu ya komentarnya...