Wednesday, September 14, 2011

Kain Merah Putih (sebuah cerpen)


Kain Merah Putih

               “yuk bikin film indie…tentang bendera kita? Daripada diam, tak bergerak, tersembunyi, berjamur di dalam gudang…”       
“…”, dia tak menjawab. Langkah kakinya dipercepat dengan segala aksesoris ketenangan dan kedataran ekspresi wajah poker.
               “…daripada dia terlupakan… sebelum tak ada yang tahu bahwa kita pernah punya…” gadis kecil itu terus bergerak berusaha menyamai langkah kaki laki-laki di sampingnya.
               “…”
               “…sebelum kita menyerahkannya!”,
Nadanya meninggi. Barangkali ia hampir berlari menyamai langkah kaki si laki-laki. Ia terpaksa menjambret kerah belakang hem flannel coklatnya. Memaksanya berhenti.
               “…”
Kediaman reaksi laki-laki ini telah memaksanya menembus level pembicaraan yang paling dihindari. Topik yang masih melukai dan masih diperdebatkan. Tapi rupanya gadis kecil ini bukan tipikal orang Jawa yang suka berbelit-belit.
Kali ini, meskipun berhenti dari langkah-langkah kakinya yang panjang, ia masih terdiam. Seperti tercekik, dia berusaha mengeluarkan kata-kata pekat, tak mengenakkan, tapi tetap tak mau keluar. Seolah dia akan mati tertelan kata-katanya sendiri.
               Dalam hati dia sama sekali tak setuju dengan kata perempuan kecil ini. Yang terus-menerus memuntahkan kalimat tanpa saringan. Bagaimana mungkin gadis dengan tubuh sekecil ini punya nyali yang terlampau besar. Semua orang tahu ia tak akan pernah rela menyerahkan benda keramat itu.
“Kalau laki-laki sudah kupukul, kucaci-maki, kubunuh, dan kukubur kamu.”
 Matanya nyaris keluar memelototi gadis yang ada di hadapannya. Tingginya bahkan tak lebih dari bahunya. Andai niatnya seperti yang diteriakan pada Ella, gadis kecil itu tak akan kuat melawan. Tapi tak selangkahpun gadis itu mundur. Wajah mereka sekarang berjarak tak lebih dari satu jengkal.
“….tidak akan. Sebab kamu tak punya nyali…”, Ella memandang Gilang dengan tajam. Bola mata yang jernih dan berkaca-kaca di sudut mata yang coba disembunyikannya menampakkan keteguhan hati.
“…karena kalau kamu punya nyali, pertahankan kain keramat itu!”, dan gadis itu melangkah pergi, meninggalkan Gilang dalam penyesalan dan kebimbangan. Dia tahu alasan Ella. Baginya bendera yang membisu di gudang memang keramat. Sejarahnya tak hanya satu-dua tahun, tak hanya satu-dua angkatan, dan tak hanya satu-dua orang yang membela keberadaannya untuk tetap ada di sini.
Ella pernah terluka hebat karena bendera itu, satu keluarga besar terluka berat. Tersayat di bagian paling sensitif. Bagaimana bendera itu menelan korban jiwa. Belahan hati Ella, saudara kembarnya. Maka ia tahu bagaimana segala hal tentang bendera ini akan lebih menyakitkan bagi Ella daripada dirinya sebagai pemimpin. Ia hanya bertanggung jawab, beban yang akan dia bawa terus sebagai sebuah sejarah yang menghiasi atau mengotori nama baiknya.
Gilang merogoh saku flanelnya, mencoba mencari-cari diantara korek, handphone, dan puntung rokok yang masih bersisa. Dia mengeluarkan sebuah kunci tua. Seperti sebuah kunci kuno dimana kita bisa membayangkan dia adalah jalan untuk membuka pintu raksasa. Tua, terbuat dari kayu jati, besar, dan berat.
Dia mengangkat kunci itu setinggi pandangan. Melalui lubang pangkal kunci, Gilang memicingkan mata, menembus lubang hingga terlihat jalan setapak di depannya. Ia masih berdiri di tempat. Ella telah meninggalkannya, kali ini benar-benar dalam kesunyian malam. Ia menyandarkan pundak pada tiang lampu jalan dan perlahan berjongkok.
Jalan setapak di depannya terasa masih berkilo-kilometer dari tujuan, tempat kunci ini bersarang. Kabut pukul tiga pagi memang mencekat. Seluruh bulunya berdiri, kulitnya tertusuk dingin, dan rambutnya yang panjang berhias bulir air. Tapi kebimbangannya membuat tubuhnya mematung, terjongkok, diam, penat, dan hening. Hanya Tuhan yang tahu bahwa dia tak punya pilihan lain. Ini adalah bentuk tanggungjawab warisan yang tak dapat dihindari.
“besok aku akan menyerahkanmu…” seolah dia berbicara pada bayangan sendiri, “…mau tak mau. Maaf, jangan menyalahkanku… bukannya aku melupakan pengorbananmu teman… ini juga bentuk lain pengorbanan.”
Bentuk pengungkapan keluh kesah laki-laki. Berbicara pada kesunyian. Dia tak butuh dimengerti dia hanya butuh dipatuhi. Tetap, jalan setapak menuju gudang masih terlalu jauh dan kepalanya masih terlalu berat.
***
               Pagi cerah yang sempurna. Jarum bergerak dari angka tiga, perlahan ke bawah seiring langkah matahari muncul dan meninggi dari ufuk timur. Pagi benar-benar datang. Hari penyerahan benar-benar datang.
               Ia telah berbicara pada para tetua keluarga. Ia telah menata ruangan dengan sempurna. Membersihkan puntung-puntung rokok, melipat sleepingbag -lebih dari satu- bekas anak buahnya yang tak bertanggungjawab. Senin, hari aktif kuliah, membuat sekretariat terlalu sepi dan janggal. Bahkan untuk kejadian sepenting ini.
               Ia meramalkan hal ini. Ia akan lebih terkejut apabila semua anggota keluarganya berkumpul. Sebelum hari ini datang dia telah mempersiapkan segala hal. Perundingan, menelaah setiap cerita asal mula, perijinan, administrasi, dan …kerelaan. Karena kerelaan adalah suatu hal yang berat. Ia tahu keluarganya yang lain tak akan datang untuk melepas bendera besar.
               “selamat datang”
               Gilang mengucapkan salam pada tamunya. Seperti dia, tamu yang datang sendiri ini memiliki perawakan serupa. Rambut panjang, jaket parasit lusuh, dan perawakan wajah tak terurus. Tangan kekar dengan banyak bekas luka serta jabat tangan bertelapak kasar. Dia adalah penjaga yang lebih berhak. Dia adalah pemilik asli kain merah putih.
               “diambil sekarang?”
Gilang bertanya demi kesopanan. Menyembunyikan keengganan teramat yang tak akan bisa dideteksi kalau bukan orang yang telah mengenalnya bagai bayangan sendiri. Ia membimbingnya menuju gudang tempat bendera itu bersemayam. Mengignat kembali tiap momen kebanggaan pertunjukan bendera raksasa mereka.
Ujung jalan, di depan pintu kayu tua besar. Meski hanya dua kali dalam setahun bendera itu keluar, kekeramatannya melampaui keris keraton. Memasukkan perlahan kunci ke dalam lubangnya. Ia merekam tiap momen itu dalam kecepatan super slow motion, menguncinya sebagai kenangan yang terpatri.
Pintu terbuka dengan percikan debu mungil beterbangan. Ia membimbing tamunya membuka kotak almari dalam gudang. Bau kapur barus yang mencegah jamur pembusukan merebak keluar dari dalam kotak. Gilang menyentuh halus kain bendera itu, perlahan mengangkatnya dari kotak, dengan tiap  kilasan seluruh kejadian jerih payah untuk mendapatkannya. Bendera merah putih raksasa.
“terima kasih telah meminjami kami. Maaf sekian lama harus mengembalikanya.” Dan keduanya kembali berjabat tangan. Tamu itu pergi membelakanginya bersama merah-putih raksasa.
Gilang harus mengambil keputusan. Bendera yang dulu terbakar bersama sekretariat harus diganti demi nama baik organisasi, demi nama keluarga. Bahkan setelah empat tahun membangun dan mendapatkan sedikit-demi-sedikit pengganti, bendera berukuran dua ratus meter persegi ini adalah bukti perjuangan. Bahkan ia adalah saksi bisu sendiri melebihi usia Gilang berada di keluarga ini.
Dalam sisi lain tembok gudang, Gilang merasakan kembali kehadiran gadis kecil itu, Ella. Ia melihat bayangannya tertunduk, bersandar pada dinding. Gilang mendekatinya, mendengarkan sesenggukan kerapuhan gadis ini ternyata lebih merobek hati.
“maaf… kamu harus tahu. Itu hanya sebuah kain… kita akan mendapatkannya lagi, melalui perjuangan lagi… dan kamu juga harus paham… kita tidak-akan-pernah-sekalipun melupakan pengorbanan semua yang pernah mengibarkannya”, dan Gilang memberanikan diri untuk menyeka bulir air mata yang terjatuh di pipi Ella.

1 comment:

  1. tidak seperti biasa... sedikit melankolis ..gak-pa-pa :)

    ReplyDelete

Silahkan berkomentar, kritik dan saran anda sangat berarti. Saya tunggu ya komentarnya...