Monday, August 1, 2011

Mengapa Edelweiss Istimewa?



Apa yang istemawa dari bunga edelweiss? Banyak yang bertanya pada saya ketika saya turun dari perjalanan bepergian atau mendaki gunung tentang bunga ini. Tak jarang juga banyak yang meminta untuk membawakan mereka oleh-oleh kuntum bunga edelweiss, benih, atau utuh, lengkap dengan batang dan daunnya. Dan yang bisa saya lakukan, memang mengecewakan bagi mereka, hanya mengambil photo.
Saya katakan kalau mereka penasaran seperti apa bentuk dan rupa edelweiss, datangi saja tempatnya tumbuh. Bukan tindakan vandal dan menyiksa bangkainya dengan membawa, dan menyimpannya di rumah. Lihat sendiri bahwa mereka lebih cantik berada di tempatnya tumbuh…dalam keadaan hidup.

KAJIAN PUSTAKA
(foto diambil dari dokumentasi pribadi Gunung Semeru 2010)

Edelweis adalah salah satu dari bunga yang dikenal di dunia terutama di kalangan komunitas pecinta alam. Dikenal sebagai bunga abadi yang dapat bertahan tetap utuh setelah dipetik hingga usia 25 tahun meski telah kehilangan warna.  Kata Edelweiss berasal dari bahasa Jerman edel yang berarti mulia dan weiss yang berarti putih (Mahendra, 2006). Para pendaki gunung menganggap edelweis merupakan suatu bukti penaklukan puncak gunung dengan ketinggian tertentu. Edelweiss juga merupakan bunga untuk mengungkapkan keabadian pada beberapa tradisi negara berpegunungan Alpine seperti Austria (Mahendra, 2006).
Bunga Edelweiss memiliki beberapa macam morfologi maupun warna tergantung dari habitat di mana dia tumbuh. Menurut pengertian dari Wikipedia Ensiklopedia ( Anonim a; 2009 ) definisi bunga edelweiss merujuk pada tanaman herbal yang dapat hidup pada kondisi altitude. Morfologi khusus dicirikan dengan adanya lapisan serat putih menyelubungi tangkai hingga daun dan bunganya sebagai adaptasi bunga dari iklim ketinggian altitude. (Mahendra, 2006).
Bunga edelwis dapat tumbuh di ketinggian di atas 1800 mdpl dan banyak di jumpai pada puncak gunung maupun tebing curam. Beberapa jenis edelweiss di pegunungan Khatulistiwa merupakan marga dari Anaphilis sedang pada beberapa pegunungan kawasan Alpine merupakan marga Leontopodium, namun keduanya merupakan famili dari Asteraceae.
Edelweis merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus. Seperti diungkapkan Wawan (Kompas, 5 Maret 2009) melaporkan “kuntum bunga edelweis (Anaphalis javanica) menjadi sebentuk kehidupan baru pasca erupsi Merapi 2006 lalu yang banyak tumbuh di tepi Kali Gendol, Dusun Kopeng, Sleman, DI Yogyakarta, Rabu (5/3).”
Dalam ekosistem sendiri bunganya sangat disukai oleh serangga, lebih dari 300 jenis serangga seperti kutu, tirip, kupu-kupu, lalat, tabuhan dan lebah terlihat mengunjunginya. Jika tumbuhan ini cabang-cabangnya dibiarkan tumbuh cukup kokoh, edelweis dapat menjadi tempat bersarang bagi burung tiung batu licik (Myophonus glaucinus) ( Anonim b;2009 ).
Karena morfologinya yang tidak berubah meski telah dipetik membuat bunga ini banyak dijual. Pemanfaatan lebih jauh dari edelweis untuk jenis Leontopodium telah dikembangkan oleh negara maju di Eropa sebagai bahan baku kosmetik dan juga bahan pengobatan. Pemanfaatannya dalam kesehatan dipercaya sebagai obat yang berkaitan dengan masalah pernafasan.
Subosukowonosraten  (Suara Merdeka, 20 Agustus 2007) mengungkapkanSebanyak 30 pendaki Merbabu mendapat peringatan petugas Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGM). Pasalnya, ketigapuluh pendaki tersebut ketahuan membawa edelweiss saat turun dari Merbabu.”
Bunga edelweiss telah memiliki status perlindungan hukum terhadap ancaman kepunahan. Status Edelweiss di Tengger-Bromo tergolong dalam spesies endangered atau terancam punah sedangkan di Taman Nasional Gede-Pangrango memiliki status dilindungi (anonim a;2009).
Masyarakat yang tinggal dalam lingkup taman nasional seharusnya  memiliki kesadaran untuk menjaga habitat asli edelweiss. Namun beberapa kasus terungkap menyebutkan justru terdapat campur tangan dari oknum penjaga kawasan taman nasional itu sendiri. Seperti diungkapkan dalam Harian Merdeka “Penjarahan kekayaan alam di Gunung Merbabu kian menjadi-jadi. Setelah sejumlah pohon yang dilindungi dijarah. Bunga edelweis yang dikenal sebagai bunga abadi dijarah habis habisan. Lokasi tumbuhnya bunga tersebut 0,5 hektare pada ketinggian sekitar 3.142 meter kini rata dengan tanah.” (Suara Merdeka,13 Februari 2003).
Saat ini populasi edelweiss semakin menurun akibat aksi vandalisme maupun pemetikan secara sembarangan untuk tujuan komersial yang  tidak bertanggung jawab. Banyak pula mereka yang mengaku sebagai pecinta alam kerap memetik secara serakah hanya sebagai pembuktian penaklukan suatu summit (Mapalanet, 2007). Namun, pelestarian edelweiss sendiri harus didukung oleh masyarakat yang mejadi anggota masyarakat Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) dan masyarakat yang berada di kawasan konservasi Taman Nasional itu sendiri. Tidak diharapkan terjadinya kasus seperti yang terjadi pada  Taman Nasional Gunung Merbabu dimana justru perangkat desa setempat yang membalak untuk tujuan komersial (Suara Merdeka,13 Februari 2003).

Yang membuatnya istimewa adalah bagaimana bisa menemuinya…. Karena tidak sembarang tempat bunga ini bisa tumbuh… perlu kerja keras untuk melihatnya berbunga. Di balik awan … diatas ketinggian 2000 meter di pegunungan…

2 comments:

  1. Keren informasinya, dilengkapi rujukan yang jelas :) Good Job!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebetulan, ini artikel sisa tugas kuliah. Jadi masih ada rujukannya . Hehe
      Makasih sudah mampir dan meninggalkan komen :)
      Oh iya.. dan maaf juga lama balas, (udah agak jarang buka blog). :))

      Delete

Silahkan berkomentar, kritik dan saran anda sangat berarti. Saya tunggu ya komentarnya...