Monday, August 1, 2011

KATAK JUGA MAKHLUK HIDUP



Mengapa Peduli pada Katak?
Berlendir, berbintil, melompat, berisik, basah, dan dingin. Banyak yang terkesan ‘jijik’ pada penampakan hewan ini. Di musim hujan, terutama di daerah tropikal dengan keanekaragaman hayatinya, populasi katak bertambah pada beberapa spesies. Berbentuk menyerupai ikan di berbagai kubangan air maupun menempel pada daun-daun sekitar sungai untuk spesies aboreal.

Katak merupakan keluarga amphibi, artinya bukan hanya dapat hidup di dua media (air dan daratan), melainkan dia juga memiliki dua fase kehidupan. Fase larva hingga juvenile yang berada di air tawar dan fase juvenile yang menginjak kedewasaan berada di daratan.
Kulit sensitif yang membantu paru-paru ‘tak sempurnanya’ dalam sistem respirasi membuatnya istimewa. Dia dikenal sebagai indikator polutan alami untuk mengukur tingkat pencemaran ekosistem di habitatnya. Baik katak teresterial (daratan) maupun aboreal (hidup di pohon).
Insang yang merupakan alat respirasi mereka selama berada di air perlahan tidak aktif ketika katak mengalami metamorfosis menuju kedewasaan. Fungsi insangnya digantikan oleh paru-paru yang perlahan berkembang. Tidak seperti paru-paru pada mamalia yang kompleks, paru-paru katak dikatakan tidak sempurna, lebih tepatnya sederhana, karena hanya berbentuk kantung alveolus. Karena itu sistem respirasi (pernafasan) mereka dibantu oleh kulit.
Kulit katak yang lembab merupakan kebutuhan bagi mereka. Selain sebagai pelindung, regulator suhu tubuh, dan tempat ekskresi, kulit teradaptasi untuk memungkinkan difusi (istilah mudahnya pertukaran) oksigen melalui membran kulit, masuk ke kapiler-kapiler yang memenuhi bawah lapisan kulit, dan beredar ke seluruh tubuh lewat darah. Karena itu kulit katak special.
Keistimewaannya juga terletak pada kerapuhannya pada perubahan kondisi lingkungan. Mereka akan merespon perubahan kondisi lingkungan sekitar tempatnya hidup. Perubahan pada suhu, salinitas, dan kualitas air dirasakan melalui sensivitas kulit multifungsinya. Sehingga populasi katak akan dengan cepat menurun karena perubahan kondisi yang tak mampu mereka ikuti dalam beradaptasi. Membuatnya sebagai indikator alami pengukuran tingkat pencemaran ekosistem.
Salinitas buruk yang merusak kulit mengganggu respirasi. Perubahan suhu secara ekstrem akan mengganggu permeabilitas membran kulit dan menyulitkan difusi oksigen ke dalam tubuh. Maka katak tak akan bisa hidup di kondisi yang tercemar. Jika katak saja tak bisa hidup di tempat itu, pastilah manusia juga tak bisa hidup tanpa terkena dampak pencemaran di area tersebut.
Selain sebagai indikator alami tingkat polutan, ada jutaan alasan lain untuk peduli pada katak. Mangsa mereka, serangga terutama sekali nyamuk, membawa pathogen penyebab penyakit pada manusia. Menjadikan katak sebagai predator alami bagi musuh manusia. Keberadaan mereka pada rantai makanan tak tergantikan pada suatu keseimbangan ekosistem air maupun daratan. Bahkan ada pada suatu ekositem dimana katak merupakan vertebrata dengan tingkat populasi dan peranan tertinggi. Bagaimana mungkin kita bisa menghiraukan dampak ketidakhadirannya akibat kepunahan?
Ayus
Kavalery 29 NAJS 092910 MPA JONGGRING SALAKA
S1 Biologi Universitas Negeri Malang

Poison Arrow Frog

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar, kritik dan saran anda sangat berarti. Saya tunggu ya komentarnya...