Saturday, March 26, 2011

PRIMATA UNIK SANG PENGHUNI HUTAN HUJAN INDONESIA

Indonesia memiliki keanekaragaman paling beragam nomer tiga di seluruh dunia setelah Brazil dan Zaire. Karena iklim tropisnya, Indonesia memiliki tipikal hutan hujan yang mendukung kehidupan penghuninya. Isolasi-isolasi pulau oleh lautan menghasilkan kekayaan genetis yang khas untuk tiap spesies sebagai bagian dari adaptasi. Menciptakan spesies-spesies endemik, yang hanya ada di wilayah tersebut. Salah satu penghuni hutan yang khas dari wilayah tropis Indonesia adalah keluarga dari primata.
Berbeda dari simpanse, primata umumnya lebih kecil atau biasa kita sebut sebagai keluarga lutung. Kehidupannya lebih sering dihabisakan di pepohonan, melompat diantara satu pohon ke pohon lain, hingga perilaku bersarang juga mereka lakukan di pepohonan. Beberapa primata di Indonesia telah masuk dalam daftar spesies yang terancam punah, sehingga perdagangan internasional binatang ini tidak diizinkan. Berikut adalah binatang-binatang dari ordo primata yang unik sebagai penghuni hutan hujan Indonesia.
Tarsius
Primata ini sering disebut sebagai monyet terkecil di dunia. Diketahui ada 9 spesies di dunia, 2 di Filipina dan 7 di Indonesia. Yang paling dikenal adalah dua spesies penghuni hutan Sulawesi yaitu Tarsius tarsier (kera hantu) dan Tarsius pumilus (Tarsius kerdil atau krabuku). Ukuran tarsius sangatlah kecil dibanding primata lain, terutama spesies Tarsius pumilus yang panjangnya hanya mencapai tak lebih dari sepuluh sentimeter. Selain ukuran yang kecil, bentuk fisiknya juga  menggemaskan. Matanya yang lebar dibanding ukuran fisik dan kepalanya yang dapat menoleh hingga 180 derajat mirip dengan burung hantu. Makanan utama mereka adalah serangga seperti kecoak dan jangkrik
Hewan nokturnal ini menghabiskan hampir seluruh hidupnya bergelantungan di batang pohon, bahkan tidur dan melahirkan dilakukan di batang pohon. Tarsius tidak dapat berjalan, saat berada di tanah hewan ini hanya dapat melompat. Namun, kemampuan kaki yang hebat membuatnya dapat melompat sejauh tiga meter. Lompatan sejauh tiga puluh kali panjang tubuh mereka. Tarsius merupakan binatang yang sulit dikembangbiakkan diluar habitat mereka, saat stress mereka cenderung melukai diri hingga mati.
Owa
Owa adalah kera tak berekor yang terkenal akan reputasinya sebagai ‘penyanyi hutan’. Salah satunya adalah Owa Jawa. Satwa endemik pulau Jawa ini memulai aktifitas paginya dengan nyanyian yang menggema di hutan hingga radius belasan kilometer. Bernama latin Hylobates javanicus, Owa Jawa adalah binatang aboreal (terus berada di pohon). Uniknya meskipun bersifat aboreal, Owa adalah primata yang berjalan tegak mengandalkan kedua kakinya. Berbeda memang dari kebanyakan primata yang menggunakan keempat tangannya saat berjalan di tanah.
Owa adalah binatang monogami yang setia pada satu pasangan selama masa hidupnya. Owa juga binatang yang terlalu mencintai habitatnya. Sehingga ketika habitatnya mengalami kerusakan, mereka tetap tak mau bergeming untuk pindah. Karena itu mereka sangatlah rawan terancam punah akibat mati kehabisan makanan.

KUKANG
Biasa disebut ‘malu-malu’ karena cara bergeraknya yang lambat, terkesan waspada dan pemalu. Tercatat ada 14 spesies di dunia, dan tiga diantaranya menghuni kawasan Kalimantan (Nycticebus coucang ), Jawa (Nycticebus javanicus), dan Sumatra (Nycticebus menagenesis). Ketiganya memiliki bulu yang beragam, namun ada kesamaan corak. Garis punggung kecoklatan yang membujur hingga kepala dan bercabang pada garis mata sampai telinga.
Matanya yang lebar dan tampak sayu membuat orang ingin memeliharanya. Hewan ini tercatat sebagai spesies ‘endangered’ (terancam punah), terutama kukang jawa. Namun, masih banyak kukang yang diperdagangkan. Terutama tercatat kukang besar Nycticebus coucang yang paling banyak diperdagangkan.


BUDENG
Budeng adalah kera berjambul dengan ekor yang panjang. Penyebaran habitatnya sangat beragam, tercatat mulai daerah bakau di pantai, hutan dataran rendah, hutan meranggas, hingga hutan dataran tinggi. Budeng adalah binatang endemik di Indonesia, antara lain Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera, bali, Lombok, Nusa Barung, Pulau Sempu, dan diindikasikan masih tersebar di pulau-pulau kecil lainnya.
Budeng atau Trachypithecus auratus memiliki bulu berwarna hitam baik pada jantan atau betina dewasa. Budeng muda berwarna oranye dan belum tumbuh jambul. Warnanya akan berubah hitam seiring kedewasaannya. Uniknya, pada subspecies Trachypithecus auratus auratus warna bulunya tetap oranye hingga dewasa. Status konservasi budeng saat ini dalam area yang terancam punah akibat rusaknya habitat di beberapa tempat.

BEKANTAN
Nasalis larvatus atau bekantan adalah penghuni asli Pulau Kalimantan. Memiliki warna bulu oranye, perut buncit, dan hidung besar adalah ciri khas monyet ini. Hidung besar dimiliki oleh pejantan, fungsinya adalah sebagai pemikat para betina. Karena hidungnya yang besar, bekantan sering dijuluki sebagai monyet Belanda oleh masyarakat lokal.
Meskipun sering menghabiskan waktunya diatas pohon, bekantan adalah seorang jago renang. Dia bahkan mampu menyebrang laut antar pulau. Pada tahun 2000 status konservasinya berubah dari vulnerable (rentan), menjadi endangered. Hal tersebut akibat habitat asli mereka, hutan Kalimantan, terganggu karena alih fungsi lahan.
Itulah beberapa primata unik penghuni hutan hujan Indonesia yang mencerminkan kekayaan genetis negeri ini. Keanekaragaman hayati bukan untuk dieksploitasi. Sebagai prinsip dari pelestarian adalah menjaga keberlanjutan tersedianya spesies, baru pemanfaatannya bisa disebut tidak merugikan.

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar, kritik dan saran anda sangat berarti. Saya tunggu ya komentarnya...