Thursday, March 31, 2011

PERJALANAN ANAK BURUNG MALEO

Di tanah Donggala Pulau Sulawesi, spesies unggas hidup dan beradaptasi khusus untuk menempati kawasan sebagai suatu satwa endemik. Satwa yang hanya bisa hidup dan berkembang biak dengan baik di wilayah tersebut. Macrochepalon atau lebih dikenal dengan burung Maleo.

Maleo adalah burung yang setia dan anti poligami. bersama mereka membangun sarang
 


morfologi burung maleo. Kepala bagian belakang membesar di ujung

 
perbandingan telur Maleo dengan Maleo muda
Macrochepalon yang berarti kepala besar menggambarkan bentuk kepala mereka yang menonjol di bagian atas. Membuat mereka mampu mendeteksi suhu panas dengan lebih baik. Pendeteksian suhu panas sangat penting, karena Maleo tidak mengerami telur mereka. Mereka membiaarkan panas bumi mengerami telur hingga menetas.
Hidupnya berawal dari sepasang burung Maleo yang bereproduksi. Mereka lalu mencari ‘sarang’ yang tepat bagi calon telur dari tubuh betina. Pasangan itu akan mencari tanah yang sesuai, menggalinya secara bergantian dan setelah telur diletakkan mereka menguburnya. Induk Maleo pergi setelah membuat tipuan-tipuan gundukan tanah kosong untuk melindungi telur mereka dari pemangsa.
Betina mengeluarkan telur cukup besar, bahkan bila dibandingkan, telur Maleo berukuran 5 kali lebih besar dari telur ayam. Telur yang besar menyulitkan proses keluar dari tubuh induk betina. Hingga induk Maleo pingsan setelah bertelur dan menjadi penyebab kematian.
Telur mereka dierami oleh panas bumi dengan suhu 32-35 derajat celcius di dalam tanah. Selama 60-90 hari telur terpendam hingga akhirnya menetas. Maleo kecil adalah burung yang madiri. Anak Maleo yang baru menetas memiliki perjuangan yang luar biasa untuk mencapai permukaan tanah tanpa bantuan induk mereka.
Namun tak semuanya bisa bertahan hidup bahkan untuk mencapai permukaan. Mereka sering ditemukan hanya dengan kepala menonjol dari tanah dan mati dikerumuni semut, atau hanya muncul dengan tubuh tanpa kepala. Berbagai ancaman menghantui anak Maleo.
Terlalu banyak hujan akan menurunkan suhu tanah, membuatnya lembab, dan telur Maleo membusuk. Timbunan tanah yang terlalu dalam bisa membuat anak kekurangan udara ketika berjuang keluar dari tanah. Akar pohon menjerat mereka.Tubuh mereka yang baru menetas masih diselimuti bau amis sehingga memancing para pemangsa untuk mendekat. Biawak, elang, luwak, hingga semut.
Namun, segala kemandirian dan perjuangan mereka membuahkan hasil. Membuatnya menjadi burung yang kuat. Melatih otot-otot gizzard dan sayap mereka untuk dapat langsung terbang ketika baru keluar dari tanah.
(saat ini Maleo adalah satwa khas Sulawesi. Dengan jumlahnya yang tak lebih dari 10.000 ekor pemerintah membuat lahan konservasi seluas 14 hektar di sepanjang tanjung Binerean, Sulawesi Tengah)
Ayukpiyuk

1 comment:

  1. Save our precious Indonesian biodiversity species :)

    ReplyDelete

Silahkan berkomentar, kritik dan saran anda sangat berarti. Saya tunggu ya komentarnya...