Thursday, March 31, 2011

EART HOUR SAVE ENERGY SAVE ENVIRONTMENT


Pada 26 Maret 2011, dunia melalui berbagai media, mengumandangkan “Earth Hour” atau mungkin bisa diistilahkan dengan jam untuk bumi. Tak hanya media masa namun juga media maya juga mengundang partisipasi penduduk berbagai Negara lewat situs-situs jejaring sosial untuk memadamkan listrik selama satu jam. Satu jam mengistirahatkan bumi yang diperas bahan bakarnya untuk kebutuhan energy manusia.
                Kebutuhan konsumsi listrik untuk menopang berbagai kepentingan manusia semakin bertambah sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Tahun 2011 jumlah populasi manusia di bumi mencapai tujuh miliar (7.000.000.000) jiwa. Berapa lama bumi mampu menyokong kehidupan manusia lewat sumber dayanya?

                Saat orang nomor satu di Indonesia menghimbau pemadaman lampu mulai pukul delapan hingga sembilan malam, rupanya tak banyak rakyatnya yang menghiraukan. Bukan mangkir pada titah presiden, hanya tingkat kepedulian yang rendah dan kompleksitas kepentingan pemenuhan hidup mereka.
                Adabeberapa orang yang tak bisa hidup dengan mematikan beberapa lampu, tapi saya kira hanya beberapa, namun kenyataanya memang ada. Polisi bekerja 24 jam, operator telepon, rumah sakit, dan swalayan contohnya. Mematikan lampu satu jam bisa menimbulkan chaos (berantakan).
                Namun tingkat ignorance dan apatis lebih signifikan terjadi. Contohnya di televisi yang mengumandangkan sendiri  “Earth Hour” tidak mematikan siarannya dan orang-orang menontonnya. Karena memang jam 8-9 malam adalah jam keluarga. Dimana keluarga modern jaman sekarang lebih banyak menghabiskan waktu menonton televisi.
                Bagaimana di lingkungan pendidikan? Saya tak jauh-jauh mengambil contoh, kampus saya di Malang. Pada waktu itu kampus punya hajatan besar. Dia kedatangan artis ibukota sekaligus sarana promosi gedung baru. Gedung berkapasitas lebih dari tujuh ribu orang baru selesai di bangun awal Maret tahun ini. Dan perhelatan besar digelar dengan tiket gratis dan animo masyarakat yang luar biasa. Tak akan mematikan lampu satu jam dengan resiko gagalnya perhelatan.
                Meski sebentar, mengistirahatkan bumi selama satu jam bisa menyelamatkan lingkungan. Menghemat sumberdaya bumi untuk menyokong kehidupan di masa mendatang. Bukankah sejak pendidikan di sekolah dasar kita sudah diajarkan bahwa ada sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui. Meskipun bisa diperbaharui, jutaan tahun tak akan bisa ditunggu oleh peradaban manusia.
                Saya percaya, di lubuk hati pembaca, ada kesadaran dan kepedulian. Karena itu, mungkin yang melewatkan “Earth Hour” bisa menebusnya dengan cara lain yang setimpal bahkan lebih. Matikan alat elektronik yang tak dipakai, hemat konsumsi air, dan ganti pemakain lampu yang boros dengan bola lampu hemat energi. Meskipun hanya sedikit, kepedulian anda berarti banyak.

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar, kritik dan saran anda sangat berarti. Saya tunggu ya komentarnya...