Monday, June 22, 2009

Edelweiss Sebentuk Keabadian di Khatulistiwa


Oleh: Ayu
Saat anda berkunjung di tempat wisata pegunungan, misalnya Gunung Bromo, mungkin anda akan melihat sekumpulan pedagang yang menjual rangkaian bunga ‘abadi’ kepada para pengunjung. Bunga tersebut memiliki beragam warna, tentu saja karena sebagian dari mereka telah dicelup ke dalam pewarna. Dalam rangkaian bunga ‘abadi’ tersebut anda akan menemukan bunga edelweiss di dalamnya.

Edelweiss merupakan salah satu tanaman yang terkenal di dunia. Digunakan sebagai lambang Negara Swiss karena memang tanaman tersebut merupakan spesies endemik di Pegununngan Alpine, Swiss. Bunga edelweiss disebut bunga abadi karena keunikannya yang dapat mempertahankan morfologinya tetap utuh setelah dipetik hingga 25 tahun berlalu. Habitat edelweiss berada di ketinggian 1500 – 3500 mdpl (meter di atas permukaan laut). Kemampuannya untuk beradaptasi di lingkungan yang ekstrim telah dikenal luas, antara lain iklim berangin kencang, bertekanan tinggi, berkadar oksigen rendah, keadaan altitude dengan fluktuasi suhu yang tinggi antara siang dengan malam hari, hingga sengatan matahari terik di ketinggian.
Edelweiss berasal dari bahasa Jerman yaitu, edel berarti mulia dan wei╬▓ yang berarti putih. Ciri umum morfologi edelweiss ditandai dengan adanya lapisan serat putih yang menyelimuti seluruh tubuh dari batang, daun, hingga bunga. Biasanya tumbuh sebagai tumbuhan herba hingga tumbuhan perdu dengan tinggi tak lebih dari empat meter.

Leontopodium alpinum
Tanaman ini merupakan family dari Asteraceae yang ditandai dengan adanya bunga majemuk terdiri dari bunga sempurna-tak lengkap yang dikelilingi oleh bunga banci atau bunga tak sempurna. Edelweiss dari pegunungan Alpine atau pegunungan beriklim subtropis merupakan spesies Leontopodium sp. sedangkan pada pegunungan beriklim tropis di khatulistiwa, misalnya Indonesia, spesiesnya adalah Anaphilis javanica. Perbedaan dari kedua spesises tersebut terlihat pada morfologi susunan bunga majemuk serta lapisan serat putih pada batang dan daun yang cenderung lebih tebal pada Leontopodium sp.

Anaphilis javanica ditemukan pertama kali di daerah Pegunungan Jawa. Ditemukan setelah ketinggian 1800 mdpl di pegunungan-pegunungan di Indonesia dengan keunikan morfologi warna bunga di tiap habitatnya. Di Gunung Arjuno-Welirang bunga edelweiss berwarna sedikit kekuningan, di Merapi-Merbabu putih kehijauan dan di Bromo dan Semeru berwarna putih. Ditemukan pula di Pegunungan Jayawijaya dengan bunga kehijauan, namun lapisan serat putih yang lebih tebal dari edelweiss di Pegunungan Jawa.
Keberadaannya yang unik di daerah khatulistiwa saat ini telah berada dalam ancaman kepunahan. Statusnya di Taman Nasional Gede-Pangrango adalah endangered species atau spesies terancam punah sehingga memiliki status perlindungan hukum yang jelas. Namun, status hukum tersebut tidak selalu berlaku di tempat lain. 
Anaphilis javanica di gunung Kawi, Malang

Pernah terjadi suatu kasus pembalakan liar di ketinggian 3.142 mdpl yang dilakuakan oleh perangkat desa di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu pada tahun 2003. Area seluas setengah hektar rumpun bunga edelweiss rata dengan tanah dan dijual dengan harga hanya sepuluh juta.

Hal tersebut cukup disayangkan karena dibutuhkan waktu lima tahun untuk menunggu rumpun bunga edelweiss mekar dari sebuah biji yang tumbuh. Seperti kasus pembalakan liar yang lain, kasus tersebut hanyalah salah satu kasus yang terungkap. Bagaikan fenomena gunung es, masih banyak kasus lain yang belum yang tidak muncul ke permukaan.

Tak hanya pembalakan liar secara besar-besaran yang dapat mengancam keberadaan edelweiss, namun juga adanya tangan-tangan jahil yang memetik maupun mengambil bunga tersebut secara sembarangan. Pada umumnya terdapat sebuah ‘tradisi’ di kalangan pendaki gunung untuk mengambil kuntuk edelweiss sebagai kebanggaan telah menaklukan suatu puncak gunung. Tidak semuanya seperti itu, namun tindakan pemetikan sembarangan oleh pendaki gunung tersebut sangatlah tidak dihargai. Karena sebagai seeorang pendaki maupun pecinta alam merupakan suatu tugas mulia untuk menjaga kelestarian alam.

Selain dari pihak diri sendiri yang harus dapat menahan diri untuk tidak merusak alam, dapat pula dilakukan suatu upaya kreatif untuk mencegah pembalakan. Seperti yang dilakukan oleh pihak jagawana Gunung Semeru yang menghukum tiap pendaki yang ketahuan mencuri di kawasan tersebut untuk berendam di dalam dinginnya air Ranu Kumbolo.

Saat ini di kawasan eropa sedang dikembangkan adanya pembudidayaan edelweiss seperti yang dilakukan oleh beberapa yayasan di Swiss. Tentu saja edelweiss yang dibudidayakan adalah spesies Leontopodium sp. yang endemik di sana. Pembudidayaan tersebut popular setelah ditemukannya kandungan-kandungan dalam ekstrak bunga edelweiss seperti senyawa flavanoid, minyak essensial, terpen, klorogen, senyawa turunan kroman dan beberapa bisabolane. Penelitian dipusatkan pada pemanfaatanya sebagai obat terhadap kanker kulit dan penyakit pernafasan.

Mungkin kita dapat meniru langkah tersebut untuk menyelamatkan edelweiss kita dari ancaman kepunahan. Indonesia adalah salah satu negara tropis dengan kekayaan alam yang tinggi. Kebanggan tersebut tidak sepatutnya hanya digunakan untuk memamerkan maupun dimanfaatkan tanpa kita bertindak untuk melestarikan. Jangan sampai apa yang kita banggakan saat ini hanya akan menjadi sebuah mitos yang diceritakan kepada generasi mendatang.


Artikel lain
Edelweis Sebentuk Keabadian di Khatulistiwa
Semeru
Masih Pegunungan Hyang
Jejak Lawu
Seven Summit
Delapan Hari Argopuro



Kembali ke
CREATIVE JOURNEY
DO WE KNOW
GADGET AND GEAR
ONLY MIND
FREE DOWNLOAD
GUNUNG HUTAN

Halaman lain
WEB LINK
DODOLAN
HOME

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar, kritik dan saran anda sangat berarti. Saya tunggu ya komentarnya...